Breaking News

Iklan Disini Murah Habis

Penyebab Banyaknya Buruh Thailand Yang Terkena Serangan Hamas Di Israel

Iklan Disini Murah Banget!


Warnaberita.Online, Bangkok - Selain puluhan yang tewas, diperkirakan masih ada puluhan buruh migran lain asal Thailand yang disandera Hamas di Jalur Gaza. Israel kini tawarkan kemudahan visa dan uang ganti rugi bagi buruh asing yang tolak evakuasi.

Saban hari, Kong Saelao mengendarai sepeda elektriknya menuju sebuah perkebunan di kawasan Khirbet Mador, Israel, di dekat perbatasan Gaza. Dia memanen buah alpukat dari pagi hingga petang di negeri orang demi sebuah mimpi besar, "kami berencana membangun sebuah rumah dan keluarga," kata isterinya, Suntree, kepada DW.

Namun kiriman kabar dan swafoto bernuansa ceria dari Saelao berhenti sejak tanggal tujuh Oktober silam, ketika Hamas menyerbu Israel. Hingga kini, pria berusia 26 tahun itu masih dinyatakan hilang.

Diperkirakan, sebanyak 54 warga Thailand termasuk di antara sekitar 220 orang yang disandera oleh Hamas di Jalur Gaza, kata militer Israel. Adapun menurut pemerintah Thailand, sebanyak 32 warganya tewas terbunuh dalam serangan Hamas. Jumlah tersebut menempatkan buruh migran asal jiran di ASEAN itu sebagai kelompok warga asing di Israel dengan jumlah korban tertinggi.

"Kenapa dia dari semua orang?" Suntree bertanya sambil menangis. "Dia hanyalah seorang pekerja lugu yang mencari uang."

Di Thailand, banyak orang bertanya-tanya mengapa begitu banyak buruh migran yang terjebak dalam pusara konflik antara Hamas dan Israel. Analis politik Thailand, Thitinan Pongsudhirak, menilai "amukan Hamas" sebagai hal "tidak terduga," tulisnya dalam sebuah editorial di Bangkok Post.

Dia berspekulasi, mungkinkah Hamas "marah terhadap para pekerja Thailand di sektor pertanian karena mereka mendapat pekerjaan yang seharusnya jatuh ke tangan mereka?"

Kedatangan buruh migran Thailand

Asumsi tersebut merujuk pada sejarah migrasi tenaga kerja dari Thailand ke Israel yang berkaitan dengan konflik Palestina.

Hingga akhir tahun 1980-an, kebun dan ladang di Israel masih digarap oleh buruh tani berupah rendah dari Palestina. Setelah Intifada pertama yang ditandai pemberontakan warga sipil di Gaza dan Tepi Barat melawan pendudukan Israeli pada tahun 1987, pemerintah di Tel Aviv mulai membatasi pergerakan penduduk Palestina. Akibatnya, jumlah tenaga kerja mengalami penurunan tajam.

Demi "mengurangi kebergantungan industri kepada iklim politik, keamanan dan militer," Israel mengimpor buruh asing dari luar Timur Tengah, kata Assia Ladizhinskaya dari LSM buruh, Kav LaOved, di Tel Aviv.

Pada tahun 1990-an, pekerja migran Thailand mulai menjadi tulang punggung sektor pertanian Israel. Sebuah survei yang digelar sebelum serangan 7 Oktober menyebutkan, jumlah buruh tani asal Palestina berkisar sekitar 10.000an orang, sementara angka pekerja migran asal Thailand di kebun-kebun Israel mencapai 30.000 orang.

Evakuasi buruh asing

Namun sejak serangan Hamas, hubungan Israel dan Thailand dilanda ketegangan diplomatik. Ketika Israel berusaha menahan laju kepulangan buruh asing dengan kemudahan visa dan bonus uang, pemerintah Thailand secara aktif mendorong repatriasi warga negaranya.

"Mohon, pulanglah segera," imbau Perdana Menteri Srettha Thavisin kepada diaspora Thailand di Israel. "Saat ini kita bisa mengevakuasi seribu warga setiap hari. Saya ingin agar semua warga negara segera pulang," imbuhnya.

Menurut pemerintah di Bangkok, pihaknya sudah memulangkan sekitar 4.500 warga negara dari Israel sejak eskalasi konflik dengan Hamas.

Salah seorangnya adalah Katchakon Pudtason, yang sempat melarikan diri dari serbuan Hamas dengan mengendarai sebuah truk pikap.

"Mereka mengejar kami dan menembak dengan gila-gilaan," kata pria berusia 40 tahun yang kini senang sudah kembali ke kampung halamannya itu. Sebuah peluru menyerempet lututnya, saat Katchakon memacu kendaraannya. Adapun penumpang yang duduk di sebelahnya terkena pukulan di bagian wajah.

Setelah pengejaran yang lama di jalan berdebu yang berlubang, barulah mereka bisa menjauhkan diri dan mencari selamat. Teman Katchakon sempat dirawat secara intensif di Israel karena cedera kepala. Katchakon pun harus terbang pulang dengan bantuan kursi roda. Lukanya akan sembuh, tetapi dia "sudah pasti tidak akan kembali," ke Israel.

Ketegangan diplomatik

Menurut Kathcakon, kawasan pertanian tempat dia bekerja tidak memiliki fasilitas perlindungan memadai, seperti yang diwajibkan di Israel demi menjamin keselamatan warga. "Bungker kami cuma terdiri dari pipa beton."

Ketika ledakan roket dan granat mulai terdengar, dia berpasrah diri. "Kalau bomnya mengenai bungker ini, kami semua akan mati," tuturnya.

LSM Israel, Kav LaOved, mengenal problematika ini dan menganjurkan buruh tani di dekat perbatasan Gaza untuk tidak bekerja, jika Hamas sudah mulai menembakkan roket ke Israel. Waktu yang tersedia untuk evakuasi dianggap tidak mencukupi, "bahkan jika alarm bahaya sudah berbunyi," kata Assia Ladizhinskaya. "Terlebih, sebagian besar asrama buruh migran adalah bukan bangunan berkualitas dengan ruang perlindungan yang modern."

Pemerintah Israel kini berjanji untuk membangun 430 bungker tambahan di wilayah perbatasan, di luar 600 yang saat ini tersebar di penjuru negeri. Selebihnya, pemerintah juga menyiapkan dana sebesar 4,7 juta euro sebagai ganti rugi untuk buruh migran, "yang hingga akhir tahun akan tetap bekerja di wilayah perbatasan Jalur Gaza," tulis Kedutaan Besar Israel di Bangkok.

Kampanye tersebut membuat geram Perdana Menteri Thavisin, yang secara langsung menghubungi Duta Besar Oma Sagiv, "Hal ini tidak dapat diterima," kata dia di hadapan media-media lokal.

"Nyawa warga Thailand sedang dipertaruhkan," imbuhnya. Kini, pemerintah di Bangkok menjanjikan dana bantuan senilai 15.000 Baht atau sekitar Rp. 6,6 juta bagi setiap buruh migran di Israel yang pulang.

Sumber : DetikNews.Online

0 Komentar